loading...
Selamat Ginting, analis politik dan militer Universitas Nasional (Unas). Foto/Dok SindoNews
Dr. Selamat Ginting
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas)
RENCANA Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) membangun 750 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) hingga 2029 dengan target 150 batalyon per tahun merupakan salah satu agenda pertahanan terbesar sejak reformasi. Kebijakan ini bukan sekadar penambahan pasukan biasa, melainkan bagian dari perubahan besar cara negara memandang ancaman, ketahanan nasional, dan geopolitik global yang terus bergerak menuju situasi penuh ketidakpastian.
Di tengah rivalitas Amerika Serikat-China, memanasnya Laut China Selatan, perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, hingga ancaman perang siber dan disinformasi, Indonesia menyadari pertahanan negara tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekuatan tempur konvensional. Negara membutuhkan struktur pertahanan yang mampu menjangkau rakyat, wilayah, logistik, pangan, hingga stabilitas sosial-politik di daerah. Di sinilah pembangunan Yonif TP menjadi relevan sekaligus kontroversial.
Sishankamrata
Secara historis, konsep pertahanan Indonesia memang berbeda dengan negara-negara liberal Barat. Indonesia menganut sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata), yaitu melibatkan seluruh rakyat, wilayah, dan sumber daya nasional sebagai bagian dari kekuatan pertahanan negara. Doktrin ini lahir dari pengalaman perang kemerdekaan ketika TNI tidak bertempur sendirian, tetapi menyatu dengan rakyat.
Sebelum terbentuknya Yonif TP jumlah personel TNI sekitar 500 ribu, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 285 juta jiwa. Itu artinya personel militer kita hanya sekitar 0,175 persen. Padahal sebagai negara kepulauan, kita memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Dari perspektif pertahanan keamanan negara, jumlah ini sangat tidak memadai atau lebih tegasnya: tidak masuk akal.
Maka kehadiran Yonif TP ingin menghidupkan kembali konsep tersebut dalam bentuk modern. Batalyon ini tidak hanya disiapkan untuk perang konvensional, tetapi juga untuk mendukung pembangunan wilayah, penguatan ketahanan pangan, penanggulangan bencana, stabilisasi daerah rawan konflik, hingga pengamanan wilayah strategis nasional. Yonif TP terdiri dari tiga kompi senapan infanteri, satu kompi zeni, satu kompi medis, satu kompi pertanian, satu kompi peternakan, satu kompi perikanan, satu kompi markas, dan satu kompi bantuan.
Artinya, TNI sedang mengejar tiga sasaran besar sekaligus. Pertama, memperkuat kontrol teritorial negara. Indonesia adalah negara kepulauan raksasa dengan ribuan pulau dan banyak wilayah minim kehadiran negara. Dalam perspektif pertahanan keamanan negara, ruang kosong adalah ancaman. Wilayah yang tidak dijaga berpotensi menjadi titik masuk separatisme, terorisme, penyelundupan, infiltrasi asing, hingga konflik sosial. Pembangunan Yonif TP membuat negara memiliki “mata dan telinga” lebih kuat di daerah.
Baca Juga: Menhan Targetkan 2026 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan Ada di Seluruh Kabupaten di Jawa
Kedua, membangun kesiapan menghadapi perang non-konvensional. Perang masa depan tidak selalu berupa invasi militer terbuka. Ancaman bisa datang melalui sabotase ekonomi, krisis pangan, perang informasi, konflik identitas, hingga operasi intelijen asing. Oleh karena itu, TNI ingin membangun struktur yang tidak hanya mampu bertempur, tetapi juga bertahan dalam situasi krisis nasional berkepanjangan.


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5509868/original/087496500_1771773254-20260222IQ_Dewa_United_vs_Boreo_FC-07.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511026/original/088863500_1771860265-Half-time.__MandiriTranshipxBaliUnited__Reignite.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5396409/original/019889700_1761733852-20251024AA_Madura_United_vs_Persija_Jakarta-85.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500137/original/026177300_1770815891-Ratchaburi_FC_vs_Persib_Bandung.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489755/original/043626800_1769931236-InShot_20260201_143209720.jpg.jpeg)

