BPBD Luwu Timur Tingkatkan Budaya Siaga Bencana

15 hours ago 10

BeritaKotaMakassar > Sulselbar

Selasa 21 Juli 2026 07:00 am oleh

SOSIALISASI -- BPBD Pemkab Luwu Timur memperkuat upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana Tahun 2026 di Aula Sasana Praja, Kantor Bupati Luwu Timur baru-baru ini.

SOSIALISASI -- BPBD Pemkab Luwu Timur memperkuat upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana Tahun 2026 di Aula Sasana Praja, Kantor Bupati Luwu Timur baru-baru ini.

MALILI, BKM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Luwu Timur terus memperkuat upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana Tahun 2026 yang digelar di Aula Sasana Praja, Kantor Bupati Luwu Timur baru-baru ini.

Kegiatan ini dibuka Kepala Pelaksana BPBD Lutim, dr. H. April, mewakili Bupati Luwu Timur, dan diikuti sebanyak 75 peserta yang terdiri atas perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), camat, kepala UPTD puskesmas se-Kabupaten Luwu Timur, serta menghadirkan Tenaga Ahli BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Jasmani Ghadi, dan Koordinator Pos Unit Siaga Makassar.
Dalam sambutannya, April mengatakan, kondisi geografis Kabupaten Luwu Timur yang didominasi kawasan pegunungan dan perbukitan menjadikan daerah ini memiliki kerawanan terhadap berbagai jenis bencana, baik bencana geologi maupun hidrometeorologi.

“Wilayah Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga berbagai ancaman bencana lainnya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan Indeks Risiko Bencana Nasional (IRBN) Tahun 2025, Kabupaten Luwu Timur masih berada pada peringkat ke-22 dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dengan kategori risiko sedang terhadap berbagai ancaman bencana.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya penanggulangan bencana harus terus diperkuat melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya berfokus pada penanganan saat terjadi bencana.

“Penanganan bencana selama ini masih lebih banyak berorientasi pada fase tanggap darurat melalui pemberian bantuan fisik. Padahal, aspek mitigasi, pencegahan, dan pemulihan pascabencana harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana,” jelas dr. April.

Dia berharap kegiatan sosialisasi ini dapat meningkatkan pemahaman dan kapasitas para peserta mengenai langkah-langkah mitigasi, kesiapsiagaan, serta penanganan bencana sehingga mampu meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan apabila bencana terjadi.
Sementara itu, Tenaga Ahli BPBD Pemprov Sulsel Jasmani Ghadi menyampaikan bahwa komunikasi, informasi, dan edukasi merupakan salah satu pilar penting dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

“Penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui peningkatan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan koordinasi yang baik sejak sebelum bencana terjadi,” jelas Jasmani. (rls)






Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |