Drama Banned FIFA: Daisuke Sato Sebut Persib Minta Putusan Tak Dipublish dengan Cantumkan Nama Pemain dan Klub, Alasan Kekhawatiran Reputasi

5 hours ago 4

Bola.com, Manila - Mantan pemain Persib Bandung, Daisuke Sato, buka suara setelah dianggap menjadi penyebab eks klubnya itu mendapatkan hukuman transfer dari FIFA.

Sato mengaku perlu meluruskan berbagai informasi yang berkembang. Dia menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya setelah namanya terus disebut-sebut sejak Persib masuk FIFA Registration Ban List.

"Saya ingin memberikan klarifikasi terkait perbincangan yang belakangan ini muncul mengenai larangan pendaftaran pemain yang dijatuhkan kepada Persib Bandung," ujar Sato dalam akun Instagramnya, @daisukesato, Sabtu (30/5/2026).

Sato mengungkapkan bahwa persoalan yang berujung pada sanksi FIFA bukanlah perkara baru. Menurut pemain berusia 31 tahun itu, akar masalah berasal dari sengketa kontrak yang terjadi setelah kerja samanya dengan Persib berakhir.

"Masalah ini bukan merupakan hasil dari laporan baru ataupun tindakan terbaru dari pihak saya. Perkara ini berkaitan dengan sengketa kontrak antara Persib Bandung dan saya, Daisuke Caumanday Sato, setelah kontrak saya diakhiri pada tahun 2023," jelasnya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Penjelasan Daisuke Sato

Kasus tersebut telah bergulir melalui berbagai tahapan hukum olahraga hingga mencapai putusan akhir. Sato mengatakan bahwa sejak awal ia memilih menempuh jalur resmi untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai pemain profesional.

"Sejak awal, saya berusaha menangani situasi ini secara profesional dan melalui jalur yang semestinya. Namun, karena cara situasi kontraktual saya ditangani saat itu serta kondisi yang saya hadapi, saya tidak memiliki pilihan yang wajar selain melindungi hak-hak saya melalui proses hukum," tutur Sato.

Perselisihan antara kedua pihak lalu diperiksa oleh lembaga sepak bola dan hukum yang berwenang. Persib juga menggunakan jalur keberatan yang tersedia, namun hasil akhirnya tetap menguatkan posisi Sato.

"Kasus ini kemudian diperiksa oleh otoritas sepak bola dan lembaga hukum yang berwenang. Persib Bandung memilih untuk menggugat atau mengajukan keberatan atas perkara ini melalui prosedur yang tersedia. Setelah seluruh tahapan proses selesai dijalani, keputusan yang dihasilkan menguatkan posisi saya," ungkap Sato.

Berawal dari Pemutusan Kontrak

Latar belakang sengketa itu berkaitan dengan pemutusan kontrak Sato saat Persib melakukan perubahan komposisi pemain asing pada pertengahan musim BRI Liga 1 2023/24. Perkara tersebut berlanjut hingga Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Pada Maret 2026, CAS menolak pokok keberatan Persib dan menyatakan Sato memiliki alasan yang sah untuk mengakhiri kontraknya.

Sato juga mengungkap bahwa Persib sempat meminta agar identitas pemain dan klub tidak dicantumkan dalam publikasi putusan. Namun, permintaan itu ditolak karena kubu Sato menilai proses tersebut harus berjalan secara terbuka.

"Persib meminta agar putusan tersebut tidak dipublikasikan dengan mencantumkan nama pemain dan klub, dengan alasan adanya kekhawatiran terkait kehormatan dan reputasi. Kami menolak permintaan tersebut karena kami meyakini bahwa perkara ini seharusnya ditangani secara transparan," tutur Sato.

Bukan Laporan Baru

Sato lalu menepis anggapan yang menyebut ia menjadi penyebab langsung munculnya sanksi FIFA terhadap Persib pada saat ini. Dia memastikan bahwa larangan registrasi pemain tersebut merupakan konsekuensi dari belum dipenuhinya putusan yang telah berkekuatan tetap.

"Oleh karena itu, larangan pendaftaran pemain yang saat ini dijatuhkan oleh FIFA bukanlah karena saya baru melaporkan klub sekarang. Sanksi tersebut merupakan konsekuensi dari kegagalan untuk mematuhi putusan akhir dalam batas waktu yang telah ditentukan," ungkap Sato.

Mantan pemain Ratchaburi FC itu juga menyatakan bahwa ia tidak pernah memiliki persoalan dengan Bobotoh maupun Persib sebagai institusi. Dia menyebut sengketa yang terjadi murni berkaitan dengan hak profesional dan tidak pernah dilandasi sentimen pribadi.

"Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah memiliki masalah dengan para pendukung Persib maupun dengan klub sebagai sebuah institusi. Saya selalu menghormati Persib, sejarahnya, rekan-rekan setim saya, serta sepak bola Indonesia. Proses ini tidak pernah bersifat pribadi dan tidak pernah dimaksudkan untuk merugikan klub maupun para pendukungnya. Tujuan saya semata-mata adalah melindungi hak-hak profesional saya dan memastikan bahwa keputusan yang telah ditetapkan dihormati sebagaimana mestinya," tulis Sato.

Memahami Kronologi

Sato meminta publik untuk memahami keseluruhan kronologi sebelum menjatuhkan penilaian. Dia berharap diskusi mengenai kasus tersebut dapat dilakukan berdasarkan fakta yang lengkap.

"Saya dengan hormat meminta kepada publik dan para pendukung untuk memahami kronologi lengkap dari permasalahan ini sebelum memberikan penilaian atau mengarahkan kritik kepada saya," terang Sato.

Sato menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukungnya selama proses hukum berlangsung. Dia juga menegaskan bahwa rasa hormatnya terhadap Persib, Bobotoh, dan sepak bola Indonesia tetap tidak berubah.

"Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya selama tiga tahun terakhir, khususnya tim hukum saya, Pedro Macieirinha dan JMPM – Sociedade de Advogados, yang telah mendampingi saya sejak awal proses ini berlangsung," kata Sato.

"Saya tetap bersyukur atas waktu yang saya habiskan di Indonesia dan akan terus menghormati Persib Bandung, Bobotoh, serta sepak bola Indonesia," ucapnya menutup.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |