Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu

5 hours ago 8

loading...

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imam Subchi (kanan), menilai fenomena hijrah digital menunjukkan adanya transformasi budaya religius yang sangat kuat di tengah masyarakat digital saat ini. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Media sosial kini bukan hanya tempat hiburan dan komunikasi. Medsos juga menjadi ruang baru belajar agama , mengaji, mencari identitas spiritual, hingga menentukan siapa yang dianggap sebagai rujukan keagamaan.

Fenomena hijrah digital dan maraknya influencer agama di media sosial misalnya. Ia menjadi bagian dari perubahan besar cara masyarakat, khususnya generasi muda, memahami dan menjalankan agama di era digital.

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta , Imam Subchi, menilai fenomena tersebut menunjukkan adanya transformasi budaya religius yang sangat kuat di tengah masyarakat digital saat ini. “Hari ini media sosial sudah menjadi ruang baru belajar agama. Anak muda mengaji lewat YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga komunitas digital. Ini realitas sosial yang tidak bisa dihindari,” katanya, Kamis (21/5/2026). Baca juga: Pentingnya Belajar Islam kepada Guru yang Bersanad dan Bermazhab

Fenomena tersebut terlihat dari berbagai riset yang menunjukkan tingginya aktivitas keagamaan di ruang digital. Laporan We Are Social 2025 menunjukkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta akun pengguna, bahkan lebih dari 207 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial.

Menurut Prof Imam, kondisi tersebut membuat otoritas agama ikut mengalami perubahan besar. Jika dulu masyarakat belajar agama melalui pesantren, majelis taklim, atau institusi pendidikan formal, kini banyak orang lebih mudah menjadikan influencer media sosial sebagai rujukan utama.

“Sekarang seseorang bisa dianggap ahli agama karena viral, sering muncul di FYP, atau punya jutaan followers. Padahal otoritas agama seharusnya dibangun dari proses belajar yang panjang, kedalaman ilmu, dan tanggung jawab moral,” ujar pakar antropologi agama ini.

Ia menjelaskan, budaya media sosial yang cepat dan serba singkat membuat masyarakat lebih menyukai potongan video pendek dibanding penjelasan agama yang utuh dan mendalam. Akibatnya, persoalan agama yang sebenarnya kompleks sering dipahami secara instan.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |