Hujan Asam Pasca-Karhutla: Ketika Bencana Tak Benar-Benar Selesai saat Asap Mereda

1 hour ago 3

loading...

Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (periode 2012-2015). Foto/Dok. SINDOnews

Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 2012-2015,
Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI)

HUJAN asam disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain emisi pembangkit listrik, kendaraan bermotor, industri dan pabrik, letusan gunung berapi, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut. Artikel ini secara khusus membahas hujan asam akibat karhutla gambut, yang mulai terpantau sejak Juli dan masih berlangsung hingga kini.

Karhutla gambut melanda banyak wilayah Indonesia setiap musim kemarau tiba, seperti yang terjadi pada 2019 lalu. Kala itu, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 1,6 juta hektare, angka yang sangat besar. Asap tebal yang menyertainya langsung menyita perhatian publik, baik di daerah, di pusat, bahkan hingga negara tetangga. Ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pun langsung menjadi sorotan utama, meski perhatian itu cepat memudar seiring redanya asap.

Padahal, ancaman yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika hujan pertama turun membasahi bumi yang baru saja terbakar. Ancaman itu bernama hujan asam pasca-karhutla, bencana yang jarang disadari masyarakat. Bencana ini tidak hilang bersama asap, melainkan hanya berpindah wujud secara diam-diam: udara yang tercemar kini berubah menjadi air dan tanah yang teracuni secara perlahan.

Ketika Api Padam, Racun Justru Terbentuk
Kebakaran lahan gambut berbeda jauh dari kebakaran hutan pada umumnya karena karakteristik gambut yang unik. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang menumpuk selama ribuan tahun di bawah tanah. Saat terbakar, gambut melepaskan emisi gas pencemar dalam jumlah jauh lebih besar, terutama dua gas utama: sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx).

Kedua gas ini berasal dari kandungan sulfur pada material gambut yang membusuk. Di atmosfer, SO2 dan NOx bereaksi dengan uap air dan oksigen, membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) yang berbahaya. Jika air hujan normal memiliki pH sekitar 5,6, air hujan pasca-karhutla bisa jauh lebih asam dari itu.

Tingkat pH yang rendah ini membuat air hujan jauh lebih merusak dibanding hujan biasa. Air hujan asam kemudian jatuh ke tanah, sungai, dan sumur milik warga, menyusup diam-diam jauh dari jangkauan alat pemantau resmi yang ada saat ini. Dampaknya sering kali baru disadari bertahun-tahun kemudian, setelah muncul gejala pada tubuh manusia.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |