loading...
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri, James Riady merangkan, pembangunan pariwisata tidak selalu harus dimulai dengan proyek berskala besar. Foto/Dok
JAKARTA - Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah keunggulan tersebut menjadi kunjungan wisatawan , devisa, investasi, dan lapangan kerja. Karena itu, pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri, James Riady dalam pembukaan Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Ruang Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Acara tersebut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana beserta jajaran pimpinan Kementerian Pariwisata, para duta besar, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, jajaran Kadin Indonesia dan Kadin Daerah, perwakilan kamar dagang asing, investor, pengusaha, serta praktisi industri pariwisata.
Forum itu mencatat kehadiran perwakilan dari 67 negara, terdiri atas 39 duta besar dan 28 anggota korps diplomatik lainnya. Menurut James, jumlah tersebut merupakan partisipasi diplomatik terbesar sejak Kadin menyelenggarakan forum sarapan ekonomi bulanan.
“Indonesia sesungguhnya tidak memiliki masalah dengan aset pariwisata. Kita menghadapi persoalan konversi,” kata James.
Baca Juga: James Riady: Dalam Dunia yang Terfragmentasi, Indonesia Justru Semakin Menarik
Persoalan yang dimaksud adalah bagaimana Indonesia mengubah keindahan alam menjadi destinasi yang mudah dijangkau, aksesibilitas menjadi pengalaman berwisata, pengalaman menjadi belanja wisatawan, belanja menjadi investasi, serta investasi menjadi lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
James menegaskan, sebagian besar modal dasar pariwisata Indonesia telah tersedia. Indonesia memiliki pantai, laut, lokasi selam dan selancar kelas dunia, ribuan pulau, gunung berapi, hutan, kekayaan budaya, keragaman kuliner, serta masyarakat yang dikenal ramah.
Namun, kekayaan tersebut belum selalu ditopang ekosistem pariwisata yang memadai. Indonesia masih perlu memperkuat konektivitas penerbangan, kapasitas hotel, transportasi publik, pusat perbelanjaan, restoran, penyelenggaraan acara, kebersihan destinasi, kemudahan perjalanan, konektivitas digital, dan konsistensi promosi.
Baca Juga: KEK Industropolis Batang Bidik Dampak Ekonomi dari Sport Tourism
“Potensi itu sudah kita bicarakan selama puluhan tahun. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi jumlah kedatangan wisatawan, masa tinggal yang lebih panjang, belanja yang lebih besar, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang,” ujarnya.





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522175/original/069914600_1772723013-IMG-20260305-WA0074.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489860/original/010940300_1769940543-large_dion_sut_44fab28fa7.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336079/original/053558800_1788103689-manila.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330803/original/009644500_1787449446-783620818_1627328745417089_6331226236511042972_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5008059/original/074768800_1731684200-Timnas_Indonesia_vs_jepang-16.jpg)