loading...
Apriyadi Wardoyo, Analis SDM Aparatur Ahli Pertama Kementerian Agama. Foto/Ist
Apriyadi Wardoyo
Analis SDM Aparatur Ahli Pertama Kementerian Agama
DISKUSI tentang masa depan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) kini mulai memasuki wacana yang bersifat filosofis dan etis. Pernyataan Geoffrey Hinton misalnya, sang Godfather of AI bahwa AI sudah memiliki kesadaran sebagaimana manusia cukup memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.
Dalam acara Big Technology Podcast, Geoffrey bahkan mengajukan sudut pandang radikal bahwa munculnya AI yang memiliki kesadaran akan berimplikasi pada perubahan mendasar terhadap pemahaman tradisional terkait jati diri manusia sebagai hasil kreasi Tuhan.
Pemikiran Geoffrey agaknya sejalan dengan narasi yang dibangun dalam film The Creator. Film yang rilis pada tahun 2023 ini memuat prediksi mengenai proses evolusi kesadaran dari Sapiens (manusia) menuju AI. Film tersebut menceritakan, kesadaran sebagai produk fungsi kognitif di otak dapat diubah menjadi data digital yang ditransmisikan dari tubuh biologis ke tubuh sintetis berbasis AI.
Secara tidak langsung, kisah The Creator mencoba mensimulasikan model penafsiran ilmiah tentang evolusi kesadaran, yang semula berakar pada pengalaman biologis, lalu kesadaran tersebut mengkristal dalam bentuk pengetahuan, dan beremanasi ke dalam sistem komputerisasi kecerdasan buatan.
Para filsuf menjabarkan kesadaran sebagai keadaan mental seseorang yang mampu merasakan, memahami, dan merespons stimulus internal dan eksternal dirinya. Dalam ruang lingkup itulah, mungkin bagi kebanyakan orang, gagasan AI yang berkesadaran masih dianggap sebagai imajinasi fiksi ilmiah yang mewarnai budaya populer.
Nampaknya mustahil bila suatu entitas yang sepenuhnya bersifat sintetis mampu merasakan pengalaman subjektif tentang diri dan lingkungannya sebagaimana layaknya manusia. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa apa yang dianggap sebagai perubahan besar dalam sejarah seringkali berawal dari mimpi atau imajinasi tentang masa depan.
Kita tidak mungkin menyaksikan umat manusia hari ini terbiasa melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat, jika sejak dulu mereka sudah menutup kemungkinan dan berhenti bermimpi dapat terbang di udara. Ide AI yang mampu sadar tidak muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari upaya manusia untuk meramalkan konsekuensi dari aktivitas inovasinya sendiri.
Ketika AI Memiliki Kesadaran
Jika AI mampu memiliki kesadaran, maka pihak yang pertama kali terdampak adalah umat beragama. Mengapa demikian? Karena kemungkinan tersebut memberi tantangan tersendiri bagi dogma-dogma keagamaan yang selama ini dianggap baku.
Bagi umat beragama, kesadaran erat kaitannya dengan konsep jiwa sebagai pusat kesadaran, yang secara tradisi dipahami sebagai anugerah Tuhan, bukan produk dari perbuatan manusia. Meminjam perspektif Ibnu Sina dalam Ahwal an-Nafs, bahwa jiwa merupakan substansi yang bukan materi dan tidak pula melekat pada materi lain.






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522175/original/069914600_1772723013-IMG-20260305-WA0074.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489860/original/010940300_1769940543-large_dion_sut_44fab28fa7.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336079/original/053558800_1788103689-manila.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330803/original/009644500_1787449446-783620818_1627328745417089_6331226236511042972_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5008059/original/074768800_1731684200-Timnas_Indonesia_vs_jepang-16.jpg)