Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?

7 hours ago 3

loading...

Panel Energi yang digelar sebagai bagian dari SPIEF 2026 ditutup dengan tradisi penyampaian proyeksi harga minyak untuk satu tahun ke depan oleh para pesertanya. Foto/Dok

JAKARTA - Panel Energi yang digelar sebagai bagian dari SPIEF 2026 ditutup dengan tradisi penyampaian proyeksi harga minyak mentah untuk satu tahun ke depan oleh para pesertanya. Tahun ini, pandangan tersebut disampaikan oleh CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin, Menteri Energi Republik Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov, mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Nobuo Tanaka, serta Presiden TOFS Group of Companies David Gadzhimirzaev.

St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) merupakan salah satu forum ekonomi tahunan utama di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis dalam ekonomi global. SPIEF 2026 digelar di St. Petersburg pada 3-6 Juni 2026 dan membahas ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, serta kerja sama internasional.

Rosneft sendiri merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia. Menurut CEO Rosneft, Igor Sechin, faktor utama yang akan menentukan tren pasar dalam jangka menengah adalah situasi terkini di Selat Hormuz.

Baca Juga: Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran

“Jika Anda dapat memberi tahu saya secara pasti berapa lama krisis di Selat Hormuz akan berlangsung, akan lebih mudah bagi kami untuk menentukan dampaknya terhadap harga dari 16 juta barel per hari yang terdampak dari pasar,” ujarnya.

Bagi Indonesia, pembahasan mengenai prospek harga minyak global ini memiliki relevansi langsung terhadap ketahanan energi nasional. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor Indonesia pada 2024 mencapai USD235,2 miliar, termasuk impor migas sebesar USD36,3 miliar.

Artinya dinamika pasar energi global, termasuk gangguan jalur perdagangan strategis, perubahan rute pasok, maupun sanksi terhadap produsen utama, dapat berdampak terhadap biaya impor energi, stabilitas harga, dan tekanan inflasi domestik.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |