Pengangguran Makassar: DPRD Desak Pelatihan Soft Skill Mendesak

1 day ago 13

BeritaKotaMakassar > Metro

Rabu 8 April 2026 07:00 am oleh

int
Ari Ashari Ilham

int Ari Ashari Ilham

MAKASSAR, BKM — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menilai serius persoalan pengangguran yang dinilai masih menjadi tantangan besar di tengah terbatasnya lapangan kerja, serta mendorong Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar untuk memperbanyak program pelatihan guna meningkatkan soft skill masyarakat.

Ketua Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Kota Makassar, Ari Ashari Ilham mengatakan Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar dalam menangani persoalan pengangguran yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah kota. Ia mendorong agar Disnaker lebih masif membuka program pelatihan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam penguatan soft skill di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan saat ini.

Menurutnya, kondisi ketenagakerjaan di Makassar saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, jumlah angkatan kerja terus bertambah setiap tahun, namun di sisi lain, pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak mampu mengimbangi laju tersebut. Akibatnya, angka pengangguran masih relatif tinggi dan berpotensi menimbulkan persoalan sosial baru jika tidak ditangani secara serius.
“Realitas yang kita hadapi sekarang ini memang tidak mudah Membuka lapangan pekerjaan baru itu butuh investasi besar dan waktu yang tidak singkat. Sementara jumlah pencari kerja kita terus bertambah. Di sinilah peran pemerintah harus hadir memberikan solusi konkret contoh dengan membuka banyak pelatihan bengkel, menjahit, dan skill lainnya,”ungkapnya, Selasa (7/4).

Ia menilai, salah satu langkah strategis yang bisa dilakukan dalam jangka pendek adalah memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan keterampilan, terutama soft skill yang dinilai sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini. Kemampuan komunikasi, etos kerja, kedisiplinan, hingga kemampuan beradaptasi dinilai menjadi faktor penting yang seringkali menjadi pertimbangan utama perusahaan dalam merekrut tenaga kerja.
“Jangan hanya fokus pada hard skill saja, banyak kasus di lapangan, orang punya kemampuan teknis, tapi tidak siap secara mental kerja. Soft skill ini penting sekali bagaimana cara berkomunikasi, bekerja dalam tim, disiplin, itu semua harus dibentuk melalui pelatihan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa program pelatihan yang diselenggarakan oleh Disnaker harus lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar kerja. Ia mengingatkan agar pelatihan tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan industri yang berkembang saat ini.

“Jangan sampai pelatihan hanya jadi kegiatan seremonial harus jelas output-nya. Apa yang dilatih harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja hari ini kalau tidak, percuma saja, peserta pelatihan tetap sulit terserap,” katanya.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Makassar, Adi Akbar mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan dalam merancang program pelatihan yang tepat sasaran. Menurutnya, keterlibatan dunia usaha sangat penting agar lulusan pelatihan memiliki peluang lebih besar untuk langsung terserap di pasar kerja.

“Kita harus buka ruang kolaborasi libatkan perusahaan, pelaku usaha, bahkan startup dengan begitu, pelatihan yang dilakukan bisa langsung nyambung dengan kebutuhan mereka ini yang harus diperkuat oleh Disnaker ke depan,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya stabil, Ia juga mengingatkan pentingnya mendorong masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal. Ia mengajak generasi muda untuk mulai mengembangkan potensi diri, termasuk membuka peluang usaha mandiri berbasis keterampilan yang dimiliki.

“Sekarang ini kita tidak bisa hanya berharap jadi pegawai harus mulai berpikir kreatif, bagaimana menciptakan peluang sendiri. Di sinilah pelatihan itu penting, supaya masyarakat punya bekal untuk mandiri,” imbuhnya.
Ia pun berharap Pemerintah Kota Makassar melalui Disnaker dapat lebih serius dan konsisten dalam menjalankan program pengembangan tenaga kerja. Menurutnya, penanganan pengangguran tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan langkah terukur, berkelanjutan, dan tepat sasaran.

“Ini bukan pekerjaan sehari dua hari. Harus ada komitmen kuat dan program yang berkelanjutan. Kalau tidak, angka pengangguran akan terus jadi persoalan yang berulang setiap tahun,” tuturnya. (ita)






Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |