Profil Faris Budiman Annas, Dosen yang Kampanyekan Literasi Kesehatan Anak Lewat Animasi

1 hour ago 4

loading...

Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina. Foto/Istimewa.

JAKARTA - Saat ini, penggunaan karya visual dan animasi sebagai strategi komunikasi untuk menyampaikan isu-isu kesehatan kepada anak-anak makin lazim diterapkan. Misalnya saja langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 di serial animasi "Upin dan Ipin" dan pengenalan tema kesehatan mental di film animasi "Inside Out 2".

Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menjelaskan, karya-karya visual memang efektif dalam menyampaikan kampanye kesehatan untuk anak-anak.

Baca juga: Profil Pendidikan Kim Seon Ho, Fasih 4 Bahasa di Drakor Can This Love Be Translated?

"Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak mereasa membosankan karena kita kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," ujarnya.

Menurutnya, seiring perkembangan strategi komunikasi dan pesatnya teknologi informasi, cara-cara kampanye tentang isu kesehatan juga terus berkembang. Karya visual dan animasi kini disebarkan melalui media digital, bahkan dikombinasikan sebagai permainan interaktif.

"Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," imbuhnya.

Metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orang tua pun dapat lebih memahami isu-isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan. Pada gilirannya, strategi komunikasi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan, seperti perbaikan gizi dan pencegahan stunting.

Baca juga: Riwayat Pendidikan Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR RI yang Jadi Sorotan soal Program MBG

Sebagai pengajar, Faris tak sekadar mengacu teori di literatur ilmu komunikasi dalam menyampaikan perkembangan tersebut. Hal itu ia buktikan sendiri berkat keterlibatannya sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia yang dikenal juga sebagai Yayasan Balita Sehat, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan ibu dan anak.

"Kita punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," paparnya.

Hingga kini, NTT memang tergolong daerah dengan angka stunting tinggi di Indonesia, yakni mencapai 37 persen pada 2023-2025. Kondisi tersebut tak lepas dari gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih di sana.

Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu. Memanfaatkan skill-nya di bidang komunikasi, ia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi dan menyiapkan materi kampanye.

Pada perkembangannya, sebagai akademisi dan Sekretaris FMCH Indonesia, Faris turut memberikan arahan, menggelar brainstorming, hingga melakukan monitoring terhadap kampanye-kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia. Bukan hanya di NTT, dukungan lembaga tersebut juga mencakup sejumlah wilayah di Jakarta dan Bogor.

Faris turut mengembangkan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, hingga seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan di media sosial. Berbagai strategi ini dikembangkan dengan satu tujuan, yakni perbaikan gizi dan kualitas hidup anak-anak di daerah rentan tersebut.

"Kalau anak-anak ini dan orang tua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," tandasnya.

Mengasah Kepekaan Sosial

Tak banyak akademisi muda yang mau bersusah payah untuk terjun langsung ke lapangan menerapkan ilmunya, apalagi di bidang kerelawanan. Keterlibatan Faris untuk bergabung dengan lembaga nirlaba di ranah kesehatan ini tak lepas dari keaktifannya di berbagai kegiatan, baik akademik, bisnis, hingga sociopreneurship.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |