Sebelum Kelme, Beginilah Jersey Timnas Indonesia dari Masa ke Masa

4 hours ago 5

Bola.com, Jakarta - Waktu yang ditunggu-tunggu itu segera tiba. Kelme akan meluncurkan jersey baru Timnas Indonesia di Plaza Utara Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Kamis (12-3-2026) sore WIB.

Launching seragam anyar Timnas Indonesia itu bakal dihadiri CEO Kelme Indonesia, Kevin Wijaya, Chairman dan CEO Kelme Global, Clinton K.E., Ketua PSSI, Erick Thohir, hingga brand ambassador Kelme Indonesia, Shayne Pattynama.

Akun Instagram Kelme Indonesia bersama Timnas Indonesia dan Garuda Store memberikan bocoran sedikit terkait jersey baru tim berjuluk Skuad Garuda itu.

Akun @officialgarudastore pada Rabu (11-3-2026) mengunggah video spoiler mengenai seragam anyar Timnas Indonesia.

Kendati desainnya tidak terlalu terlihat, pola kerahnya tampak ditonjolkan.

Reno Salampessy mengikuti TC Timnas Indonesia U-20 di Surabaya dan mendapat pesan dari sang ayah, legenda sepak bola Ricardo Salampessy. Reno menegaskan siap bersaing sehat dan membuktikan dirinya layak dipanggil kembali pada pemusatan latihan beriku...

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Perjalanan Seragam Timans Indonesia

Dalam sejarahnya, PSSI pernah beberapa kali bermitra dengan apparel lokal pada rentang waktu 1960 hingga 1990-an, saat Skuad Garuda belum dilirik perusahaan penyedia jersey sepak bola raksasa dunia macam Adidas dan Nike.

Kedua perusahaan itu lebih berminat mensponsori negara-negara di percaturan elite.

Pada era 1990 hingga awal 2000-an, Timnas Indonesia rajin menggunakan kostum dengan logo-logo brand besar macam, Adidas, Diadora, atau Nike, saat berlaga di pentas internasional. Namun, jersey-jersey tersebut dibeli PSSI dari distributor, alias tidak ada ikatan bisnis apa-apa.

"Paling mentok PSSI minta harga diskon dari mereka. Mereka belum menghitung kita sebagai mitra bisnis yang menguntungkan," cerita Nugraha Besoes, Sekjen PSSI di era Azwar Anaz dan Nurdin Halid.

Pada era itu, PSSI tak kekurangan ide untuk mengakali pengeluaran besar membeli jersey. Caranya bermitra dengan garmen lokal untuk menduplikasi kostum-kostum dengan logo brand besar.

Bambang Sucipto, mantan pengurus Persija Jakarta, yang punya bisnis garmen intens memasok jersey-jersey replika buat Timnas Indonesia.

Sempat mencuat guyonan, "Adidas Made in Bangcip" yang menjadi singkatan namanya di kalangan pemain Skuad Garuda.

"Kalau dilihat dari jauh, kelihatannya sama. Tapi, kalau sudah memakainya, langsung rasanya beda. Kostum timnas produksi garmen lokal bahannya agak tebal dan cenderung berat. Mungkin tujuannya biar awet, walau malah bikin pemain kepanasan," cerita Sudirman, bintang Timnas Indonesia di era 1990-an.

"Mungkin sekarang kalau dipakai, malu rasanya," imbuh Patar Tambunan, pilar Skuad Garuda di SEA Games 1987 sambil terkekeh.

Walau kualitasnya di bawah produk asli, nyatanya para pemain Timnas Indonesia periode itu sangat bangga.

"Kualitas nomor dua, yang paling penting momennya. Kostum yang kami pakai punya banyak kenangan. Hal itu tak terbayar dengan apa pun," ungkap Bambang Nurdiansyah, striker Timnas Indonesia yang sukses memenangi medali emas SEA Games 1991.

Era 2000-an

Memasuki periode awal 2000-an, Timnas Indonesia mulai dilirik perusahaan-perusahaan apparel asing, meski pasokan kostumnya hanya sebatas kerja sama barter. PSSI hanya mendapat pasokan jersey, tanpa mendapat rupiah sepeser pun.

Pada periode 2000 hingga 2003, Timnas Indonesia pernah menggunakan kostum bermerek Nike dan Adidas.

Cerita lucu terjadi di Piala Asia 2003. Ketika itu, asisten manajer Timnas Indonesia, Muhammad Ghazali, melakukan suatu terobosan. Dia berani mensponsori jersey Skuad Garuda. Kebetulan yang bersangkutan punya brand pakaian "Ghazali Sports" di Semarang.

Jadilah Ponaryo Astaman dkk. menggunakan jersey bermerek lokal Ghazali Sports pada saat berlaga di China.

Pada awalnya, desain milik Ghazali Sports banjir kritik. Kostum Timnas Indonesia dianggap kurang bagus. Ghazali sempat melontarkan kesedihannya, ketika jersey milik perusahaan garmennya dicaci.

"Sedih saya, niat hati ingin menonjolkan logo Garuda di dada kostum untuk mengobarkan semangat para pemain, eh malah dihujat," katanya.

Ivan Kolev, yang saat itu menjadi pelatih Skuad Garuda, dan para pemain Timnas Indonesia tak mempersoalkan kualitas bahan jersey yang dipakai.

"Lumayan enak dipakai, tidak seberat jersey yang dipakai klub," kata Ponaryo Astaman, gelandang Timnas Indonesia saat itu.

Selain dipakai di Piala Asia 2004, jersey dengan brand Ghazali Sports sempat wira-wiri pada Kualifikasi Piala Dunia 2006.

Periode Adidas dan Nike

Piala AFF 2004 jadi momen membanggakan bagi Timnas Indonesia. Untuk kali pertama di event internasional, Skuad Garuda menggunakan jersey brand besar disertai kontrak bisnis yang menguntungkan.

Timnas Indonesia yang saat itu dibesut Peter Withe menggunakan kostum dengan merek Adidas.

Perusahaan asal Jerman itu menjalin kontrak kerja sama dengan PSSI selama dua tahun.

"Ketertarikan Adidas mensponsori Timnas Indonesia sebuah kebanggaan bagi PSSI. Tak usah saya sebut nominal kontraknya, pastinya angkanya sangat bagus," kata Nurdin Halid, Ketua PSSI, saat itu.

Selain menyokong Timnas Indonesia, Adidasmensponsori secara pribadi tiga pilar Skuad Garuda, yaitu Boaz Solossa, Ilham Jayakesuma, dan Ortizan Solossa. Ketiganya adalah bintang di Piala AFF 2004.

Adidas sukses meraih keuntungan finansial dengan menyuplai jersey ke Timnas Indonesia. Seragam Skuad Garuda saat itu laku keras di gerai-gerai Adidas.

Masyarakat pencinta sepak bola Tanah Air mau merogoh kocek mahal Rp500 ribu untuk bisa mempunyai kostum Timnas Indonesia.

Kesuksesan Adidas, dicermati pesaing utamanya, Nike. Begitu kontrak antara PSSI dengan perusahaan asal Jerman tersebut habis pasca-Piala AFF 2007, Nike langsung menyodorkan kontrak jangka panjang dengan nilai wah.

Perusahaan asal Amerika Serikat itu kabarnya menggelontorkan dana Rp10 miliar per tahun buat kerja sama bisnis dengan PSSI.

Ajang Piala Asia 2007 yang dihelat di empat negara Asia Tenggara Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia, dipakai Nike buat menggaet pasar di kawasan ini. Negara-negara tuan rumah kesemuanya disponsori Nike.

Kerja sama antara PSSI dengan Nike berlangsung cukup lama. Perusahaan tersebut menyokong Timnas Indonesia hingga 2019. Mereka sama sekali tak terpengaruh dengan konflik yang terjadi di PSSI, atau buruknya citra sepak bola Indonesia karena rentetan kasus kontroversial.

Nike melihat potensi pasar Indonesia sangat menjanjikan. Indonesia menjadi satu di antara negara dengan jumlah penikmat sepak bola terbesar di Asia, dan dari sisi prestasi juga tidak istimewa-istimewa amat.

Beralih ke Brand Lokal

Setelah periode itu, brand-brand lokal Indonesia tak mau kalah untuk bersaing. Pada 2020, PSSI secara resmi memperkenalkan Mills sebagai apparel Timnas Indonesia.

Mills adalah brand dari perusahaan lokal, PT Mitra Kreasi Garmen. Keterlibatan perusahaan lokal memasok kostum Skuad Garuda bukan kali pertama terjadi.

Mills akan memenuhi kebutuhan Timnas Indonesia dari segala usia dan untuk Timnas Wanita. Selain itu, Mills akan menyuplai kegiatan PSSI di antaranya kursus pelatih, kursus perwasitan, dan untuk asosiasi provinsi.

Penunjukkan Mills sebagai apparel resmi Timnas Indonesia sempat memicu kontroversi. Sebab, PSSI sempat menjalin mitra dengan perusahaan asing asal Thailand, Warrix.

Sejak 2022, Timnas Indonesia bekerja sama dengan Erspo, yang juga brand lokal. Kerja sama PSSI dengan Erspo terjalin selama dua tahun dengan nilai kontrak senilai Rp16,5 miliar.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |