Oleh:
Undri
(Direktur Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan)
JAUH di Kampung Macassar, Cape Town-Afrika Selatan, terdapat komplek makam seorang pejuang Indonesia yang jejak ketokohannya mampu melampaui batas negara asal, serta kiprahnya turut berjasa dalam memperkaya budaya dunia. Beliau adalah Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari (1626-1699), seorang ulama Tarekat Khalwatiyah di Nusantara, pahlawan nasional dan tokoh penting di Afrika Selatan.
Sangatlah tepat Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) tahun ini memperingatinya sebagai Anniversaries Programme 400 tahun setelah kelahirannya, yaitu melalui keputusan 43 C/5 Unesco. Sebuah program sejak tahun 1952 dan sudah lebih dari 1000 peringatan yang dirayakan bersama Unesco, dengan tujuan peningkatan pemahaman antar bangsa, mempererat hubungan antar masyarakat, mendukung perdamaian dunia, sekaligus meningkatkan citra dan keterkenalan Unesco dan negara anggota. Program serupa telah dilaksanakan diantaranya terhadap A.A. Navis sastrawan besar dari Sumatera Barat (2024), dan Laksamana Malahayati-laksamana laut perempuan pertama dari Aceh (2025).
Pentingnya Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari diperingati sebagai perayaan oleh Unesco tidak terlepas dari ketokohannya, sekaligus karena hasil karya dan sejarah perjuangannya mempertautkan diplomasi budaya kedua negara yang berakar dari sejarah, yakni Indonesia dan Afrika Selatan. Nelson Mandela, sang pemimpin Afrika Selatan yang sangat disegani bahkan menyebut Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari sebagai “one of Africa’s best sons” (salah seorang putra Afrika terbaik) dan sumber inspirasi perjuangan anti-apartheid lintas batas agama dan bangsa-menjembatani samudera dan menyatukan budaya.
Jejak Sejarah
Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari, yang juga terkenal dengan nama Syekh Yusuf lahir di Gowa pada tahun 1626, di lingkungan keluarga bangsawan. Pada umur delapan belas tahun beliau berangkat ke Timur Tengah, lewat Banten dan Aceh, serta kemudian bermukim sambil menuntut ilmu di berbagai kota di dunia Arab, seperti di Yaman, Mekkah, Madinah, dan Damaskus (Lubis, 1999).
Syekh Yusuf juga dikenal sebagai at-Taj al-Khalwati (“Mahkota Khalwatiyah”) karena perannya sebagai ulama pertama yang memperkenalkan Tarekat Khalwatiyah di Nusantara. Semasa beliau menetap di Banten (1670–1683), selain berperan sebagai penasehat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa, beliau juga telah menulis sedikitnya 32 karya, di antaranya Zubdat al-Asrār fī Tahqīq Ba‘ḍ Masyārib al-Akhyār atas permintaan Sultan.
Setelah ditangkap dan diasingkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Sri Lanka ajarannya tetap tersebar luas di Nusantara, disebarkan oleh para murid beliau khususnya di Makassar dan Bugis. Naskah koleksi yang ada di Perpustakaan Nasional RI sekarang ini misalnya, yang disalin di Kerajaan Bone (1806) atas perintah Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin, menunjukkan keberlanjutan pengaruh Syekh Yusuf meskipun telah lebih dari satu abad setelah wafatnya.
Dengan ulama India seperti Sidi Matilaya dan Ibrahim Minhan, Syekh Yusuf berhasil membangun jaringan keilmuan, menulis Safīnat an-Najāh atas permintaan Ibrahim Minhan, menjalin hubungan dengan jamaah haji dan pedagang Nusantara. Melalui mereka pulalah karya-karyanya tersebar kembali ke Nusantara.
Beliau juga menulis sedikitnya 17 karya di Sri Lanka, beberapa di antaranya mencantumkan “Sarandib” atau “Sailāniyyah” sebagai tempat penulisan. Karya-karya penting lainnya Al-Nafḥat as-Sailāniyyah, Barakah as-Sailāniyyah, Syurūṭ al-‘Ārif al-Muḥaqqiq, ditulis karena terinspirasi dari pertemuannya dengan ulama Tasikmalaya saat gerilya. Termasuk karya Kaifiyyah an-Nafyi wa al-Iṡbāt, ditulis atas permintaan sahabatnya di komunitas Melayu-Sri Lanka.
Di Sri Lanka namanya tercatat dalam buku People of Sri Lanka: “Sri Lankan” – Our Identity, “Diversity” – Our Strength (Kementerian National Coexistence, Dialogue, and Official Languages, 2017). Beliau disebut sebagai Shaikh Yusuf Mengkasar of Banten (1629–1699) dalam buku tersebut.
Syekh Yusuf menulis dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis-Makassar. Pilihan bahasa tersebut sekaligus mencerminkan keragaman linguistik dan budaya yang dikuasainya dalam usaha penyebaran ajaran Islam Nusantara. Pada aspek isi dan pemikiran, dalam Sirr al-Asrār misalnya, beliau memperkenalkan konsep Iḥāṭah (Tuhan meliputi segala sesuatu) dan Ma‘iyyah (Tuhan menyertai segala sesuatu), yang menegaskan keesaan mutlak Allah. Pemikiran ini pula yang menjadi ciri khas ajaran tasawuf Syekh Yusuf.
Pada masa pengasingan di Zandvliet (kini Macassar, Cape Town) Syekh Yusuf tidak lagi menulis, tetapi lebih aktif mengajarkan ilmu dan membimbing para pengikutnya. Tempat tinggalnya menjadi pusat pertemuan bagi komunitas muslim yang terdiri dari budak dan orang buangan. Pengaruhnya besar dalam menguatkan martabat kaum tertindas serta menumbuhkan solidaritas spiritual, membangun struktur sosial-keagamaan awal komunitas muslim di Afrika Selatan, dan berdakwah di kalangan budak serta masyarakat di daerah tersebut.
Di Indonesia sendiri ajaran Syekh Yusuf melahirkan Jam’iyyah Tarekat Khalwatiyah yang masih berkembang di Sulawesi Selatan, terutama di Makassar dan Palopo. Ajaran-ajaran tarekat sebagaimana dimuat dalam naskah Fatḥ Kaifiyyah aż-Żikr ternyata masih diamalkan oleh para pengikutnya di Sulawesi Selatan hingga masa sekarang.
Atas jasanya, diakui sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 71/TK/1995. Di Afrika Selatan dianugerahi penghargaan tertinggi oleh Pemerintah Afrika Selatan, yaitu Order of the Companions of Oliver Reginald Tambo in Gold pada 27 September 2005. Penghargaan ini diberikan oleh Presiden Afrika Selatan karena peran signifikannya sebagai pejuang serta pionir penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Diplomasi Berakar Sejarah
Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah yang panjang dan mendalam hubungan diplomatik. Tokoh seperti Syekh Yusuf yang diasingkan ke Cape Town pada tahun 1694, menjadi jembatan awal hubungan tersebut antara kedua bangsa. Komunitas keturunan Indonesia di Cape Town atau Cape Malay yang jumlahnya saat ini sekitar 2,7 juta, merupakan bukti ikatan persaudaraan kedua negara yang sangat kuat.
Dari segi ekonomi, kedua negara aktif memperkuat kemitraan melalui Joint Trade Committee (JTC) untuk mengatasi hambatan dagang dan meningkatkan volume, mengingat potensi besar sebagai mitra strategis di benua Afrika. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan total perdagangan Indonesia-Afrika Selatan tahun 2024 mencapai US$2,41 miliar (meningkat 7,2% dibanding 2023). Komoditas utama ekspor RI adalah minyak sawit, kendaraan, dan kertas, sedangkan impor utama meliputi mineral (kromium/mangan) dan buah-buahan.
Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Afrika Selatan secara resmi terjalin pada tahun 1994, menandai babak baru kerja sama antara dua bangsa yang sama-sama menjunjung tinggi nilai kemerdekaan, kemanusiaan, dan solidaritas global. Namun akar hubungan spritual dan budaya kedua negara sesungguhnya telah tumbuh jauh sebelum masa diplomasi modern melalui sosok Syekh Yusuf tersebut.
Dari sosok ketokohan dan perjuangan Syekh Yusuf menjadi inspirasi perjuangan dari seorang Nelson Mandela. Nama Nelson Mendela tak bisa dipisahkan dari perlawanan terhadap sistem apartheid, yaitu sistem pemerintahan dengan pemisahan ras yang diberlakukan oleh kaum kulit putih pada awal abad ke-20 sampai dengan awal tahun 1990-an. Mandela berjuang sangat keras dan terbukti akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan rasis tersebut.
Mandela juga mengalami apa yang dialami oleh Syeikh Yusuf. Mandela pernah dipenjara dan diasingkan karena perjuangannya melawan penjajah kulit putih. Pulau Robben (Robben Island) dan bangunan tempat Mandela dipenjara sampai hari ini masih dapat kita jumpai. Kekuatan jiwanya dalam berjuang itulah yang terinspirasi dari kisah serta ketokohan Syekh Yusuf. Secara tegas Mandela bahkan menyatakan bahwa Syekh Yusuf merupakan role modelnya dalam melawan penjajah apartheid.
Imbas dari kecintaanya terhadap ketokohan Syekh Yusuf itu pula yang membuat Mandela mencintai batik buatan Indonesia. Mandela memperoleh kemeja batik pertamanya pada kunjungan resmi ke Jakarta di awal masa kepresidenannya pada tahun 1990. Semenjak saat itu dia terus mengenakan batik di sesi-sesi resmi bahkan menjadikan batik sebagai dress code resminya.
Di antara banyak penghargaan yang diberikan kepada Mandela, yang kemudian dianggap menyentuh perannya sebagai ikon mode di tanah air adalah karena berhasil membawa kemeja batik buatan Indonesia ke tengah masyarakat global- menjadikan batik buatan Indonesia terus mendunia. Uniknya, pada pertemuan di PBB Mandela mengenakan baju batik buatan Indonesia. Rakyat Afrika Selatan pun kemudian mengikuti langkah Mandela, berbondong-bondong mengenakan batik buatan Indonesia.
Dalam rangka memperingati 400 tahun Syekh Yusuf, sekaligus dalam mempererat hubungan antara kedua negara, Kementerian Kebudayaan merencanakan pembangunan Indonesian Cultural Center Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari di Cape Town Afrika Selatan. Pusat Budaya ini memiliki urgensi startegis karena menjadi wadah yang memperkuat hubungan antar bangsa melalui seni, bahasa, pendidikan, dan pertukaran nilai-nilai kemanusiaan, menjaga dan melestarikan warisan Syekh Yusuf, yang mempresentasikan kontribusi Indonesia dalam sejarah Afrika Selatan, meningkatkan citra Indonesia di kancah internasional sebagai bangsa yang menjunjung perdamaian, toleransi, dan solidaritas global, serta membangun ruang interaksi lintas budaya.
Rencana pembangunan Indonesian Cultural Center Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari tersebut juga tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga menanamkan akar diplomasi budaya yang kuat untuk masa depan-sebuah jembatan persaudaraan abadi antara Indonesia dan Afrika Selatan. (*)







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3202958/original/062911200_1596893908-Persijap_Jepara.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452821/original/063692700_1766459920-wasit_jepang.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442611/original/013751400_1765547342-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443193/original/064411900_1765630737-photo-collage.png__4_.png)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399832/original/035489100_1762014180-20251101BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Australia_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4909059/original/034976800_1722766959-Persebaya_Surabaya_-_Ilustrasi_Logo_Persebaya_Surabaya_2024_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5441153/original/025905600_1765454961-Latihan_timnas_Indonesia-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5436755/original/053587600_1765185011-IMG_1847.jpeg)