Warga Binaan Meninggal di Rutan

3 hours ago 7

BeritaKotaMakassar > Metro

Selasa 31 Maret 2026 22:52 pm oleh

MENINGGAL -- Salah seorang warga binaan ditemukan meninggal dunia di Rutan Kelas IIB Sidrap

MENINGGAL -- Salah seorang warga binaan ditemukan meninggal dunia di Rutan Kelas IIB Sidrap

SIDRAP, BKM — Kasus kematian warga binaan Muhammad Taufiq Lingga di Rutan Kelas IIB Sidrap kini berkembang menjadi sorotan serius publik. Di satu sisi, pihak rutan dan kepolisian menyatakan korban meninggal akibat bunuh diri. Namun di sisi lain, keluarga korban mengungkap sejumlah kejanggalan yang memicu dugaan berbeda.

Kepala Rutan Kelas IIB Sidrap, Perimansyah, menegaskan berdasarkan hasil investigasi internal, korban mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan sarung yang diikat pada ventilasi kamar. Peristiwa itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 09.33 Wita, saat petugas menerima laporan dari penghuni kamar Blok A terkait adanya narapidana yang mencoba bunuh diri.
Petugas kemudian membuka kamar dan segera memberikan pertolongan dengan melepaskan ikatan sarung di leher korban sebelum membawanya ke klinik rutan. Saat diperiksa, kondisi korban sudah kritis dengan tekanan darah rendah, nadi melemah, dan saturasi oksigen menurun. Sekitar pukul 09.40 WITA, korban dirujuk ke RS Nene Mallomo.

Namun setelah mendapatkan penanganan medis berupa resusitasi jantung paru (RJP), pada pukul 09.53 WITA korban dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter.
Perimansyah juga menjelaskan, saat kejadian tidak ada saksi di dalam kamar. Rekan satu sel korban sedang berada di luar membersihkan selokan dan baru mengetahui kejadian setelah masuk ke dalam kamar.

“Temannya memanggil korban, tapi tidak menyahut. Saat masuk, korban sudah dalam kondisi tergantung dan langsung meminta pertolongan,” jelasnya. Pihak kepolisian yang melakukan olah TKP pun menyatakan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan, sehingga kematian korban disimpulkan sebagai murni bunuh diri.
Pihak rutan menambahkan, korban sebelumnya mengalami tekanan mental setelah diduga terlibat kasus pencurian celengan masjid di dalam rutan. Untuk menghindari konflik dengan warga binaan lain, korban sempat ditempatkan di sel khusus.

Selain itu, pihak rutan menyebut keluarga telah menerima kejadian tersebut dan jenazah telah dimakamkan di Kabupaten Gowa. Berbeda dengan pernyataan pihak rutan, keluarga korban justru mengungkap sejumlah kejanggalan yang mereka temukan pada tubuh almarhum.
Istri korban, Hati, mengaku terakhir berkomunikasi dengan suaminya dua hari sebelum kejadian dan tidak mendapati adanya tanda-tanda masalah. “Dia bilang baik-baik saja, tidak ada keluhan. Tiba-tiba kami dapat kabar sudah meninggal,” ujarnya.

Namun saat melihat jenazah, pihak keluarga menemukan luka lebam di beberapa bagian tubuh, luka robek pada bibir, serta bekas goresan di punggung yang menimbulkan kecurigaan. Selain itu, keluarga juga menerima informasi bahwa korban sempat dituduh mencuri celengan masjid dan ditempatkan di ruang isolasi.
“Memang ada kabar dia dituduh mencuri celengan masjid, lalu dimasukkan ke ruang isolasi,” ungkap Hati.
Merasa ada kejanggalan, keluarga akhirnya meminta dilakukan pembongkaran makam untuk autopsi guna memastikan penyebab kematian. Proses autopsi dilakukan oleh tim forensik Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, pada 30 Maret 2026.
Proses tersebut berlangsung sekitar empat jam dengan pengamanan aparat gabungan. Pihak kepolisian melalui Kanit Resmob Polda Sulsel, Wawan Suryadinat, menyampaikan bahwa pihaknya hanya melakukan pendampingan selama proses autopsi berlangsung.

“Hasil autopsi akan disampaikan oleh tim forensik,” singkatnya.
Kasus ini kini menyisakan dua narasi besar: versi resmi yang menyatakan bunuh diri tanpa kejanggalan, serta versi keluarga yang menduga adanya kekerasan. Perbedaan ini membuat publik menanti hasil autopsi sebagai kunci untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Di balik peristiwa ini, muncul pertanyaan mendasar tentang transparansi, perlindungan hak warga binaan, serta pengawasan di dalam lembaga pemasyarakatan. Apakah ini murni tragedi personal akibat tekanan mental, atau ada fakta lain yang belum terungkap? Waktu dan hasil forensik akan menjawabnya. (ady/C)





Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |