5,5 Miliar Serangan Siber, Unhan Ingatkan AI Bisa Jadi Senjata Perang Baru

20 hours ago 17

loading...

Diskusi Strategis Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber di Kampus Unhan RI, Sentul, Bogor, Rabu (19/8/2026). FOTO/DOK. FSP Unhan RI

BOGOR - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) tidak lagi semata-mata menjadi isu teknologi. AI kini telah berkembang menjadi instrumen strategis yang mengubah karakter ancaman, pola operasi, hingga cara negara membangun pertahanan di ruang siber.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Diskusi Strategis bertajuk "Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber" yang digelar Program Studi Magister Peperangan Asimetris, Fakultas Strategi Pertahanan (FSP), Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Rabu (19/8/2026), di Kampus Unhan RI , Sentul, Bogor. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, militer, legislatif, praktisi keamanan siber, hingga komunitas digital untuk membahas perubahan karakter ancaman di era AI.

Rektor Unhan RI, Letjen TNI (Purn.) Anton Nugroho mengatakan perkembangan AI telah dimanfaatkan untuk memperkuat berbagai bentuk serangan siber, mulai dari rekayasa sosial hingga disinformasi. Berdasarkan data APJII 2026, pengguna internet Indonesia telah mencapai 235 juta orang dengan tingkat penetrasi 81,7 persen. Sementara itu, BSSN mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025 atau meningkat 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020-2024.

"Perubahan lingkungan strategis global berlangsung semakin cepat dan membawa konsekuensi langsung terhadap cara negara memandang ancaman keamanan. Ruang siber telah menjadi arena yang semakin penting karena dapat dimanfaatkan oleh aktor negara maupun non-negara untuk memengaruhi stabilitas, kepentingan nasional, bahkan proses pengambilan keputusan suatu negara," kata Anton.

Dekan FSP Unhan RI Mayjen TNI Oktaheroe Ramsi menilai perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman, sehingga strategi pertahanan juga harus ikut beradaptasi. "Perkembangan AI mengubah karakter ancaman dalam peperangan asimetris. Karena itu, pertahanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknologi, tetapi membutuhkan pembaruan cara pandang, kebijakan, strategi, dan kesiapan institusi dalam menghadapi dinamika ancaman di ruang siber," ujarnya.

Menurut dia, ruang siber kini tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknis karena serangan dapat menyasar proses pengambilan keputusan, kepercayaan publik, hingga konfigurasi kekuatan negara. Kerangka tersebut menjadi penting karena peperangan asimetris memungkinkan aktor dengan sumber daya relatif terbatas memberikan dampak strategis terhadap negara melalui pemanfaatan teknologi, informasi, jejaring digital, maupun kerentanan masyarakat.

Kepala BSSN Letjen TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan ruang siber telah menjadi domain utama dalam perkembangan peperangan asimetris modern. "Asymmetric warfare memiliki karakteristik non-konvensional yang dikategorikan ke dalam global society 4.0. Domain utamanya adalah ruang siber," katanya.

Menurut dia, karakter ruang siber yang anonim, berbiaya rendah, memiliki ketergantungan digital tinggi, serta berada dalam wilayah abu-abu atau gray zone membuatnya sangat relevan dalam peperangan asimetris.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |