Incar 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal, Airlangga Dorong Integrasi Ekosistem Bullion Bank

7 hours ago 11

loading...

Menko Airlangga mengatakan, jika potensi emas fisik masyarakat sebesar 1.800 ton yang berada di bawah bantal berhasil masuk ke dalam sistem keuangan, posisi akumulasi emas Indonesia dapat bersaing dengan AS dan China. Foto/Dok

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mendorong pembentukan dan penguatan ekosistem bullion bank di Indonesia guna memaksimalkan potensi cadangan emas nasional serta meningkatkan nilai tambah hilirisasi sektor pertambangan. Salah satu potensi besar yang disorot adalah keberadaan tabungan emas fisik masyarakat di luar sistem perbankan yang diperkirakan mencapai 1.800 ton.

Dalam peresmian Indonesian Bullion Market Association (IBMA), Menko Airlangga mengatakan bahwa kapasitas emas yang dikelola lembaga keuangan saat ini masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas jika dibandingkan dengan total kepemilikan emas di masyarakat.

"Kenapa harus double digit? karena sejak diresmikan Bapak Presiden di PT Pegadaian ada 153 ton emas. Itu nilainya sekitar 20 miliar. Sedangkan di BSI 20 ton, ya Pak. 20 ton. Dan tadi disampaikan oleh Ibu Selfi, emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton. Nah, kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, 252 miliar dolar," ujar Airlangga di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Prabowo Pamer Bank Emas Indonesia Kelola 153 Ton Emas dalam Setahun

“Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang 252 billion ini mungkin 20 persennya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal, ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan syariah maupun pegadaian,” imbuhnya.

Menko Airlangga menambahkan, jika potensi emas fisik masyarakat sebesar 1.800 ton tersebut berhasil masuk ke dalam sistem keuangan, posisi akumulasi emas Indonesia secara akumulatif dapat bersaing di tingkat global di bawah Amerika Serikat (AS) dan China.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |