Cuaca Ekstrem, Nelayan Pulau Balang Lompo Pilih tak Melaut

20 hours ago 8

BeritaKotaMakassar > Headline

Jumat 6 Februari 2026 11:29 am oleh

Pulau Balang Lompo, Kabupaten Pangkep yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Di saat cuaca ekstrem, mereka memilih untuk tidak melaut.

Pulau Balang Lompo, Kabupaten Pangkep yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Di saat cuaca ekstrem, mereka memilih untuk tidak melaut.

PANGKEP, BKM — Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi cuaca ekstrem yang disertai gelombang tinggi telah menyebabkan menurunnya aktivitas melaut di wilayah pesisir Pulau Balang Lompo, Kabupaten Pangkep. Cuaca yang tidak menentu dan gelombang yang semakin besar membuat laut tidak lagi aman bagi para nelayan untuk beraktivitas seperti biasanya.

Ketidakstabilan cuaca tersebut berkaitan erat dengan perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan masyarakat pesisir. Pola angin dan arus laut yang dahulu relatif mudah diprediksi kini berubah secara drastis, sehingga nelayan kesulitan menentukan waktu yang aman untuk melaut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan secara umum, tetapi juga secara langsung mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

Muh Ali, seorang warga Pulau Balang Lompo menuturkan, musim angin barat yang terjadi seperti saat ini membuat aktivitas penangkapan ikan semakin sulit dilakukan. Ia menjelaskan bahwa sejak cuaca buruk melanda perairan pesisir hasil tangkapan ikan mengalami penurunan signifikan.

”Selain faktor cuaca, meningkatnya gelombang laut juga membuat nelayan harus berpikir ulang sebelum memutuskan untuk berangkat melaut,” ujar Muh Ali, Kamis (5/2/2026).

Ali menjelaskan, demi menjaga keselamatan diri ia memilih untuk tidak melaut sementara waktu dan menunggu hingga kondisi laut kembali stabil. Keputusan ini juga diikuti oleh sebagian besar nelayan lainnya di Pulau Balang Lompo. Hal ini menunjukkan bahwa cuaca buruk tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mempengaruhi komunitas nelayan secara keseluruhan.

Faktor lain akibat cuaca buruk adalah menurunnya pendapatan harian nelayan secara drastis. Tanpa aktivitas melaut, mereka kehilangan sumber penghasilan utama.

Sebagai bentuk adaptasi, sebagian nelayan memanfaatkan waktu luang untuk memperbaiki perahu dan peralatan tangkap mereka sebagai persiapan ketika cuaca kembali membaik.

Meski demikian, ketidakpastian cuaca tetap menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan mata pencaharian nelayan di kawasan pesisir tersebut. (*)





Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |