Dari Jakarta ke Bandung: Kisah Berliku Boy Jati Asmara Menembus Persib

7 hours ago 8

Bola.com, Jakarta - Nama Boy Jati Asmara mungkin tak asing bagi pencinta sepak bola Indonesia, khususnya bobotoh Persib Bandung. Namun, perjalanan kariernya menuju tim kebanggaan Kota Kembang ternyata tidak semulus yang dibayangkan.

Meski lahir dan besar di Bandung, Boy justru harus merantau ke Jakarta untuk memulai karier sepak bolanya. Ia tidak langsung menembus sistem pembinaan Persib, melainkan mengasah kemampuan di lingkungan yang berbeda dari tanah kelahirannya.

Langkah tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh tantangan. Boy harus membuktikan kualitasnya di luar Bandung sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan membela tim impiannya.

Kini, di usia 43 tahun, Boy mengenang perjalanan tersebut dengan penuh rasa syukur. Kisahnya menjadi bukti bahwa mimpi tidak selalu datang dengan jalan yang mudah.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Mengawali Karier di Jakarta, Satu Angkatan dengan Maman Abdurrahman

Boy mengungkapkan bahwa ia memulai karier junior di Persija Jakarta Timur, jauh dari Bandung. Di sana, ia satu angkatan dengan Maman Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai kapten Persija.

“Dulu saya sudah di Persija Timur junior, satu angkatan dengan Maman Abdurrahman di Piala Suratin. Setelah itu juara, lalu sempat magang di tim senior,” kenangnya.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke Persikabo, hingga akhirnya menembus Timnas Indonesia U-20. Dari situlah jalan kembali ke Bandung mulai terbuka.

“Setelah itu saya ke Persikabo, masuk timnas U-20, baru kemudian balik ke Persib pada era pelatih Deny Syamsudin tahun 2001,” ujarnya.

Budaya Senioritas dan Kuatnya Pembinaan Lokal

Boy juga mengungkap alasan mengapa ia tidak langsung masuk ke Persib sejak usia muda. Menurutnya, saat itu terdapat budaya senioritas yang cukup kuat di lingkungan klub.

Selain itu, Persib dikenal sangat mengedepankan pemain lokal hasil pembinaan sendiri. Hal ini membuat persaingan menjadi sangat ketat bagi pemain muda.

“Dulu masih ada istilah senioritas. Persib juga sangat mengedepankan kebanggaan lokal. Bahkan pemain dari luar pulau saja sudah dianggap pemain luar,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa sistem pembinaan di Bandung saat itu berjalan sangat baik, sehingga Persib tidak pernah kekurangan pemain berbakat dari hasil didikan klub-klub amatir setempat.

“Pembinaan di Bandung sangat bagus. Jadi Persib tidak pernah kekurangan pemain dari hasil binaan sendiri,” lanjutnya.

Profesionalisme di Atas Segalanya

Selain Persib, Boy juga sempat memperkuat sejumlah klub seperti Deltras Sidoarjo, Persitara Jakarta Utara, Mitra Kukar, hingga Arema Indonesia.

Menariknya, setiap kali kembali ke Bandung sebagai lawan Persib, Boy mengaku tetap profesional meski menghadapi atmosfer yang begitu emosional.

“Tentu ada motivasi lebih. Bermain di Bandung dengan atmosfer stadion seperti itu pasti memberikan dorongan tambahan,” katanya.

Ia bahkan menyebut bahwa banyak pemain dari luar daerah selalu bersemangat ketika bertanding di Bandung, terlepas dari kondisi mereka.

“Bahkan pemain yang cedera pun bisa seperti sembuh kalau mau main di Bandung. Semua ingin tampil di sana,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, Boy melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih, membawa pengalaman panjangnya untuk generasi berikutnya. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa jalan menuju mimpi kadang harus ditempuh dengan cara yang tidak biasa.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |