Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Kiblat Ekonomi Umat

5 hours ago 6

loading...

Islam telah memiliki sistem ekonomi ideal yang telah diterapkan Rasulullah SAW dalam menuntaskan kemiskinan, dan seharusnya dijadikan kiblat ekonomi kaum Muslim saat ini. Foto ilustrasi/ist

Sistem ekonomi global saat ini didominasi oleh kapitalisme barat yang sangat bergantung pada utang, spekulasi, dan bunga (riba). Ironisnya, banyak negara dan entitas bisnis Muslim yang mengadopsi sistem ini karena dianggap sebagai satu-satunya instrumen untuk mengakselerasi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi modern.

Padahal, Islam telah memiliki sistem ekonomi ideal yang telah diterapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam menuntaskan kemiskinan, dan seharusnya dijadikan kiblat ekonomi kaum Muslim saat ini. Seperti apa sistem ekonomi Islam tersebut?

Berikut ini adalah uraian praktis yang sangat baik tentang bagaimana ekonomi Islam di Madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW didirikan, bagaimana cara kerjanya (termasuk dinamika dan aturan pasar), dan pentingnya Islam dalam memasukkan unsur suci ke dalam urusan keuangan, yang dipaparkan Mufti Faraz Adam, mufti keuangan Islam terkemuka di Inggris saat ini, ia juga ahli keuangan Islam.Seperti dilansir islamicfinanceguru.com.


Asal-usul Ekonomi Islam

Umat Islam pertama menderita dan bertahan selama tiga belas tahun di Makkah hingga perintah dari Allah diwahyukan untuk berhijrah ke sebuah kota kecil di utara yang saat itu dikenal sebagai Yathrib . Akhirnya, sekelompok kecil umat Islam dapat beribadah kepada Allah dengan bebas tanpa penganiayaan. Waktu telah tiba untuk meletakkan dasar peradaban yang makmur yang pada akhirnya akan berjumlah lebih dari 1 miliar jiwa dalam 1400 tahun.

Baca juga: Doa Memasuki Bulan Zulhijjah, Jangan Dilewatkan!

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tiba di Madinah disambut dengan kegembiraan dan sukacita para emigran dan warga Madinah, dan beliau bertekad untuk mengembangkan ekonomi Islam.

Faktanya, Madinah dipilih secara ilahi dan faktor ekonomi dalam pemilihan tersebut jelas; kota ini merupakan pusat bagi semua kafilah dagang yang datang dari utara dan selatan; letaknya tidak terlalu jauh dari pantai dan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Makkah, yaitu perekonomian pertanian yang berkembang pesat.

Ekonomi Islam segera mulai terbentuk ketika Nabi SAW meletakkan fondasi tiga Masjid; yaitu, Masjid Quba, Masjid Banu Salim dan Masjid al-Nabawi. Lanskap berubah dengan adanya Masjid-masjid ini, memungkinkan orang untuk membayangkan perubahan dan arah baru.

Masjid-masjid terbukti menjadi landasan ekonomi Islam karena menyediakan pendidikan tentang perdagangan, keuangan, dan ekonomi Islam, serta menanamkan sifat-sifat luhur dalam diri para pelaku pasar.

Stabilitas Politik – Sebuah Unsur Kunci

Setiap perekonomian dapat runtuh tanpa stabilitas politik, oleh karena itu Nabi dengan cepat melakukan dua tindakan yang sangat cerdik; beliau membuat perjanjian dengan masyarakat yang lebih luas di Madinah dan menciptakan pakta persaudaraan antara para emigran Muslim dan Muslim asli Madinah.

Pakta ini merupakan pakta solidaritas sosial dan finansial. Laporan menunjukkan bagaimana Muslim asli Madinah memberikan kekayaan dan harta benda mereka sendiri untuk saudara-saudari mereka. Ini hampir merupakan dorongan bagi penduduk setempat untuk menjadi investor malaikat dan penyedia modal awal bagi kelompok Muslim yang baru beremigrasi dari Mekah.

Membangun Pasar

Madinah mempunyai empat pasar di tempat-tempat berikut: Zubala, Wadi Buthan di Qaynuqa, as-Safasif dan Muzahim atau Zuqaq. Dua di antaranya dikuasai oleh suku-suku Yahudi sedangkan dua lainnya dikuasai oleh kaum pagan .

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |