OTT Berulang, Pengamat Kritisi Pencegahan Korupsi

1 day ago 14

loading...

Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli mengkritik Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terus dilakukan penegak hukum. Foto/Ilustrasi/Dok SindoNews

JAKARTA - Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli mengkritik Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terus dilakukan penegak hukum. Dia menilai OTT yang melibatkan pejabat hingga aparat penegak hukum seakan menandakan bahwa pengungkapan kasus korupsi sebagai agenda rutin di Tanah Air.

Menurut dia, fenomena OTT, peradilan, dan kekuasaan bukan sebagai peristiwa terpisah, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam, yakni krisis integritas dan keberanian moral. Sebab, tanpa pejabat hukum yang takut Tuhan, kata dia, hukum mudah tergelincir menjadi sekadar ritual kekuasaan.

“Di negeri ini, operasi tangkap tangan sudah seperti agenda rutin. Hampir setiap tahun, bahkan hampir setiap bulan, selalu ada pejabat atau aparat penegak hukum yang kembali terjaring. Seolah korupsi adalah ritual tahunan,” kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2026).

Baca juga: Kinerja KPK Selama 2025, 11 OTT hingga Pulihkan Aset Rp1,53 Triliun

"Polanya nyaris seragam, konferensi pers, borgol, janji bersih-bersih, lalu sunyi. Kita gaduh sesaat, lalu lupa. Korupsi pun berlanjut, seolah-olah negara ini rajin menangkap, tetapi malas mencegah,” sambung Mantan Ketua Komisi III DPR ini.

Dia mengungkapkan di tengah 'siklus anomali' itu, Ketua Mahkamah Agung Sunarto mengucapkan kalimat sederhana namun menohok, yaitu 'percuma hakim pintar jika tidak takut kepada Tuhan'. Menurutnya, pernyataan itu datang di saat yang tepat atau justru di saat yang paling genting.

Sebab, persoalan hukum saat ini bukan lagi soal kurangnya aturan atau lemahnya lembaga, melainkan krisis karakter. “Indonesia tidak kekurangan orang cerdas di ruang-ruang kekuasaan. Yang langka adalah mereka yang berani berhenti sebelum melanggar batas,” katanya.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |