Lumba-Lumba Terluka Tersesat di Mangrove Pantai Kuti-Caddi, Maros

1 day ago 13

BeritaKotaMakassar > Headline

Senin 2 Februari 2026 18:25 pm oleh

Seekor lumba-lumba ditemukan tersesat di kawasan mangrove Pantai Kuti-Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Senin (2/2).

Seekor lumba-lumba ditemukan tersesat di kawasan mangrove Pantai Kuti-Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Senin (2/2).

MAROS, BKM — Seekor lumba-lumba ditemukan tersesat di kawasan mangrove Pantai Kuti-Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Senin (2/2). Peristiwa langka ini sontak menggerakkan warga untuk melakukan evakuasi darurat. Dengan bergotong royong, warga menyelamatkan satwa laut (lumba-lumba) yang terperangkap di antara akar-akar mangrove yang rimbun.

Tubuhnya berkilau basah diterpa sinar matahari pagi. Napasnya terengah dengan ritme yang mencerminkan kegelisahan satwa laut yang berada di habitat yang tidak semestinya.

Warga yang berdatangan segera bergotong royong menggunakan peralatan seadanya. Dengan hati-hati, mereka mengarahkan lumba-lumba menuju perairan yang lebih dalam. Setelah beberapa saat, upaya kolektif itu berhasil, dan mamalia laut tersebut akhirnya dapat kembali berenang bebas ke habitatnya.

Kepala Dusun Kuri Ca’di, Desa Nisombalia , Sapri yang ditemui di area pantai mengatakan, lumba-lumba yang berukuran 1 meter 70 sentimeter ini ditemukan dengan kondisi yang kurang bagus. “Ikan ini sepertinya kurang sehat, karena ada beberapa luka dan mata sebelah kirinya ada gangguan,” jelasnya.

Dia mengatakan, saat menemukan lumba-lumba ini, warga berusaha membantunya untuk kembali ke habitatnya dengan mendorong sejauh 10 meter sampai 20 meter ke arah laut. “Hanya saja lumba-lumba ini selalu kembali ke pinggir pantai. Sehingga sampai saat ini, lumba-lumba ini masih ada di pinggir laut,” ujarnya.

Sapri mengaku, pihaknya sudah melaporkan adanya lumba-lumba yang terdampar tersebut. ”Kami sudah melaporkan keberadaan lumba-lumba ini kepada instansi terkait. Termasuk BKPSDA,” ujarnya.

Dia menambahkan, ikan tersebut cukup berat. Diperkirakan beratnya bisa mencapai 300 kg. “Warga yang menemukan ikan tersebut awalnya tidak menyangka kalau itu lumba-lumba. Tapi mereka memastikan ketika mendekati lumba-lumbe tersebut. Dan ternyata ikannya cukup besar,” pungkasnya.

Sementara itu, pemerhati lingkungan, Achmad Yusran menyoroti aspek ekologis dan budaya dari kejadian tersebut. Ia mengutip filosofi kuno masyarakat Sulawesi tentang makna “yang tersesat” sebagai tanda bahwa harmoni alam tengah goyah.  “Apakah ini hanya kebetulan, atau panggilan bagi kita untuk menjernihkan kembali hubungan dengan laut?” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dan pengendalian aktivitas manusia yang dapat mengganggu kehidupan laut. Secara ilmiah, lumba-lumba mengandalkan sonar untuk membaca lingkungan. Kebisingan kapal atau gangguan ekosistem dapat mengacaukan orientasi mereka, memaksa satwa-satwa ini memasuki zona yang tidak aman. (ari)





Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |