Menelaah di Balik Manuver MSCI

3 hours ago 6

loading...

Arjuna Putra Aldino, Direktur Eksekutif, Geopolitics and Global Political Economy Studies (G2PES) Indonesia. Foto/Istimewa

Arjuna Putra Aldino
Direktur Eksekutif, Geopolitics and Global Political Economy Studies (G2PES) Indonesia

Pada tanggal 28 Januari 2026, Morgan Stanley Capital International, sebuah lembaga penyusun indeks pasar global, mengumumkan penilaian baru terhadap pasar saham Indonesia. Mereka menyoroti masalah investability terutama kurangnya transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan data free float (proporsi saham yang dimiliki publik). Dengan alasan ini, mereka membekukan perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia. Artinya MSCI tidak akan melakukan rebalancing atau penyesuaian bobot saham Indonesia dalam periode peninjauan indeks yang akan datang.

Mereka memberi batas waktu sampai Mei 2026 kepada otoritas Indonesia untuk memperbaiki data dan tata kelola pasar supaya bisa mempertahankan posisi Indonesia dalam indeks emerging markets. Pesannya terkesan layaknya ancaman, jika perbaikan tata kelola dan transparansi tidak terpenuhi sebelum batas waktu yang ditentukan maka MSCI bisa menurunkan bobot pasar saham Indonesia dari emerging markets menjadi frontier market, sebuah bursa saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang lebih kecil, likuiditas rendah, dan tingkat risiko lebih tinggi.

Pengumuman MSCI ini memicu arus keluar modal asing yang cukup deras, dua kali perdagangan bursa mengalami trading halt. Data bursa menunjukkan bahwa dalam sell-off dua hari tajam setelah pengumuman MSCI, investor asing menjual sekitar US$645 juta (sekitar Rp9,8 triliun) nilai saham Indonesia. Rupiah juga sempat melemah signifikan karena tekanan pasar dan kekhawatiran investor global. Sebagai sebuah worst-case scenario, Goldman Sach memproyeksikan jika Indonesia benar-benar di downgrade menjadi frontier market maka dana pasif yang akan keluar dari bursa Indonesia sekitar US$7,8 miliar (atau sekitar Rp130-140 triliun).

Jika worst-case scenario ini terjadi bukan tidak mungkin Indonesia mengalami krisis kepercayaan dari investor global hingga berdampak pada brutalnya penurunan nilai tukar mata uang, menjadikan Indonesia sebagai negara premium risk, hingga menciptakan perlambatan ekonomi. Bahkan pasar keuangan Indonesia bisa masuk dalam jebakan stagnasi struktural (financial underdevelopment trap) yang bisa membatasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga Indonesia menjadi negara besar yang tak pernah bisa naik kelas, terus tertahan menjadi middle income country.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |