Ikan Sapu-sapu Ancaman Bagi Nelayan di Danau Tempe

13 hours ago 10

SOPPENG BKM –Keberadaan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukan hanya menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan lokal di sejumlah wilayah seperti di Jakarta, populasinya juga dikeluhkan nelayan di Danau Tempe yang sebagian wilayahnya masuk ke Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng.

Saat ini ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) telah berkembang biak. Keberadaan spesies invasif ini makin mendominasi perairan, membuat para nelayan setempat semakin kesulitan, merugi, dan hasil tangkapan ikan bernilai ekonomi makin menurun drastis.

Di Kelurahan Limpomajang, Kelurahan Kaca, pinggir danau dan sekitarnya, Kecamatan Marioriawa, keluhan nelayan sama semua, setiap kali jaring ditarik, isinya lebih banyak ikan sapu-sapu dibanding ikan mas, mujair, gabus, atau ikan khas Danau Tempe lainnya.

Keluhan Utama dan Dampak Ikan Sapu-Sapu:

Ledakan populasi ikan sapu-sapu mengancam keberadaan ikan asli sungai karena sifatnya yang agresif dalam berebut makanan dan ruang habitat.

Perilaku menggali (burrowing behavior) ikan sapu-sapu untuk sarang dapat menyebabkan erosi tebing sungai dan merusak tanggul.

Pakar memperingatkan untuk tidak mengonsumsi ikan ini karena hidup di perairan tercemar, berpotensi kontaminasi logam berat, dan parasit berbahaya.

Ledakan populasi di sungai-sungai meresahkan pemancing karena ikan asli menjadi sulit didapat.

“Ikan ini kulitnya keras, berduri tajam, daging sedikit, dan hampir tak ada nilai jual paling banyak dipakai pakan ternak atau malah dibuang begitu saja.ujar Ismail (53) Nelayan Mate,e Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa,saat dihubungi BKM, Minggu (10/5)
“Sudah dua tahun terakhir makin parah. Dulu sekali tarik jaring dapat puluhan ikan, sekarang malah dapat sapu-sapu sampai berkarung-karung, tak ada yang mau beli. Tenaga habis, bensin habis, tapi pulang tak dapat untung,” keluh Ismail.

Masalahnya bukan cuma tak laku dijual. Ikan sapu-sapu sangat merugikan ekosistem: memakan makanan dasar, memakan telur ikan lokal, mengaduk dasar lumpur bikin air keruh, merusak tanaman air, bahkan sering merobek jaring dan alat tangkap nelayan. Mereka berkembang biak sangat cepat, tahan air kotor, dan tak ada musuh alami di sini, makanya jumlahnya meledak tak terkendali jelas Ismail.

Lanjut Ismail menambahkan bahwa, jika terus begini Nelayan di sini akan habis.Menurutnya dulu sebelum ikan Sapu-sapu berkembang biak di Danau ada sekitar 100 Nelayan sekarang bisa dihitung jari karena yang punya Sawah kebun mereka lebih memilih berkebun dan berawah dan banyak juga yang pergi merantau jelasnya.
“Dulu pak Rumah terapung di Danau ada 50 rumah sekarang rumah terapung tinggal 5 unit saja, itu pun hanya dijadikan tempat alat nelayan saja tidak ada lagi nelayan yang tinggal apalagi bermalam,”kata Ismail.

Seandainya pemerintah menganggarkan untuk pemusnahan massal ikan sapu-sapu,apalagi Danau Tempe berada di tiga kabupaten yakni Soppeng Wajo dan Sidrap, maka nelayan akan turun membasminya,harapnya.

Hal senada yang disampaikan oleh salah seorang nelayan bernama Manang.Ia mengungkapkan bahwa sekitar tujuh tahun lalu Danau Tempe masih menjadi tumpuan utama mata pencaharian masyarakat nelayan. Namun kondisi itu kini tinggal kenangan.
“Beberapa tahun terakhir saya sudah jarang turun ke danau mencari ikan, karena hasil tangkapan sudah sangat berkurang,” ujar Manang.
Menurutnya, jenis ikan bernilai ekonomis seperti nila, gabus, bungo, emas, dan sepat semakin sulit ditemukan. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru mendominasi perairan Danau Tempe dan dinilai merugikan nelayan.

“Sekarang lebih banyak ikan sapu-sapu daripada ikan yang bisa dijual. Itu yang membuat kami nelayan susah,” jelasnya.
Hal senada dikatakan Lasse, bahwa penurunan hasil tangkapan ini berdampak langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan. Tidak sedikit warga yang memilih merantau ke daerah lain, sementara sebagian lainnya beralih menjadi petani atau mencari pekerjaan alternatif demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Belum lagi kerugian tambahan jaring dan alat tangkap sering robek atau rusak tersangkut duri ikan ini. Biaya perbaikan dan penggantian alat semakin membebani, sementara pendapatan justru makin menipis.

“Banyak nelayan tua yang bingung dan pasrah, anak-anak muda mulai pergi merantau karena tidak ada lagi harapan hidup dari danau ini.” tutup Lasse.
Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Soppeng, Erman Asnawi yang dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan bahwa,ikan sapu-sapu sudah ada pabriknya di UPTD Penrikanan di Salo mate Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa dengan kapasitas 500 kg. Itu untuk digunakan masyarakat untuk menghancurkan ikan sapu-sapu untuk makanan itik, ayam dan sebagainya.

Untuk penganggaran pemerintah beli ikan sapu-sapu kepada masyarakat belum ada.
Bukan hanya nelayan Kabupaten Soppeng mengeluh tapi semua nelayan seperti Kabupaten Wajo dan Sidrap yang memiliki wilayah danau semua mengeluh.”Pesan saya kepada nelayan supaya jika ada ikan sapu-sapu ditangkap jangan dilepas kembali ke danau,” pinta Ermam.

Sementara itu, sejumlah pakar kesehatan memperingatkan untuk tidak mengonsumsi ikan ini karena hidup di perairan tercemar, berpotensi kontaminasi logam berat, dan parasit berbahaya.(ono)

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |