Rantai Dingin Kunci Tekan Ikan Terbuang, Teknologi Hemat Energi Didorong untuk KNMP

2 hours ago 5

loading...

Anggota Komisi IV DPR Prof Rokhmin Dahuri (tengah) mengunjungi pameran RHVAC Indonesia 2026 di NICE, PIK2, Hall 5 & 6, Jakarta yang berlangsung pada 9–11 September 2026. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Penguatan sistem rantai dingin (cold chain) dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi susut hasil perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan dan daya saing ekspor Indonesia. Kebutuhan tersebut semakin penting seiring produksi perikanan nasional yang mencapai sekitar 15 juta ton per tahun pada 2025, sementara pemanfaatan teknologi rantai dingin disebut masih sangat terbatas.

Anggota Komisi IV DPR Prof Rokhmin Dahuri mengatakan rantai dingin merupakan infrastruktur penting dalam menjaga mutu ikan sejak ditangkap atau dipanen hingga sampai ke konsumen. Menurutnya, ikan dan produk hasil laut merupakan komoditas yang sangat mudah rusak sehingga membutuhkan penanganan, penyimpanan, dan transportasi dengan suhu yang tepat. "Saya sangat menyambut baik dan mengapresiasi diselenggarakannya semacam simposium atau lokakarya sistem rantai dingin yang mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih," katanya, Kamis (10/9/2026).

Rokhmin mengungkapkan, dari sekitar 15 juta ton produksi perikanan Indonesia setiap tahun, kurang dari 12 persen yang dapat ditangani dengan sistem rantai dingin. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu persoalan yang menyebabkan sebagian hasil perikanan mengalami penurunan mutu bahkan terbuang sebelum mencapai konsumen. Baca juga: Prabowo Targetkan 1.386 Kampung Nelayan Rampung Akhir 2026!

"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ujarnya.

Menurutnya, persoalan tersebut memiliki dampak berantai. Ketika mutu ikan turun, harga jual nelayan ikut tertekan. Di sisi lain, produk yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan risiko kesehatan dan sulit memenuhi standar pasar ekspor. Kondisi ini turut menjelaskan mengapa Indonesia, meski menjadi salah satu produsen perikanan besar dunia, masih tertinggal dalam nilai ekspor dibandingkan sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, dan Norwegia.

Dorong Teknologi Cold Chain Berbasis Energi Surya
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rokhmin mendorong penggunaan teknologi rantai dingin yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Menurut dia, teknologi low carbon bahkan zero carbon perlu mulai diterapkan dalam sistem perikanan nasional, terutama dengan memanfaatkan potensi energi surya Indonesia.

"Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari," jelasnya.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |