Tidak Seperti AS dan Israel yang Memiliki Senjata Nuklir, Kenapa Iran Tetap Percaya Diri?

2 hours ago 5

loading...

Iran dan AS tetap percaya diri meski tidak memiliki senjata nuklir seperti AS dan Israel. Foto/X

TEHERAN - Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami mengatakan bahwa negara tersebut sepenuhnya mampu membela diri tanpa perlu senjata nuklir. Itu diungkapkan di tengah ketegangan regional yang telah meningkatkan momok konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat yang memiliki senjata nuklir.

Tidak Seperti AS dan Israel yang Memiliki Senjata Nuklir, Kenapa Iran Tetap Percaya Diri?

1. Iran Memiliki Daya Jera

“Dari sudut pandang strategis dan mengingat kemampuan yang dimiliki Iran, pada dasarnya kami tidak membutuhkan senjata nuklir dan kami mampu membela negara kami dan memiliki daya jera yang diperlukan,” kata Mohammad Eslami dalam sebuah wawancara dengan platform berita Avash yang diterbitkan pada hari Sabtu.

Ia menyampaikan pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan tentang apakah Iran harus bergerak menuju perolehan senjata nuklir, mengingat serangan yang dihadapinya dari AS dan Israel, dan mengingat upaya yang semakin meningkat dari kedua negara untuk memicu kerusuhan di Iran dan menggoyahkan sistem pemerintahannya.


2. Akan Mengembangkan Nuklir di Masa Depan

Dalam wawancara tersebut, Eslami membahas berbagai isu, termasuk rencana nuklir Iran di masa depan dan pendekatannya terhadap kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Ia mengatakan jumlah orang yang dipekerjakan dalam proyek nuklir Iran saat ini dan yang sedang berlangsung, termasuk dua pembangkit listrik tenaga nuklir yang baru direncanakan, telah meningkat dari hanya 400 orang pada tahun 2022 menjadi 6.000 orang tahun ini.

3. Memiliki Persediaan Uranium

Pejabat tersebut mengatakan bahwa negara itu siap menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya 60% untuk mencegah pemberlakuan kembali sanksi nuklir PBB sebelum akhir September tahun lalu.

Namun, kepala AEOI mengatakan bahwa sanksi tersebut diberlakukan kembali, dan Iran tidak lagi merasa berkewajiban untuk menghentikan pengayaan uranium hingga hampir 60%, yang dibutuhkan untuk pembuatan bahan bakar pendorong nuklir.

Ia menambahkan bahwa IAEA telah secara teratur memeriksa lokasi-lokasi nuklir Iran, kecuali lokasi-lokasi yang menjadi sasaran AS selama konflik 12 hari antara Iran dan rezim Israel pada bulan Juni.

(ahm)

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |