BMKG Peringatkan Puncak Kemarau Juni hingga Agustus, Pemkot Tingkatkan Kesiagaan

2 hours ago 4

MAKASSAR, BKM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini terkait dinamika cuaca ekstrem yang tengah melanda wilayah Sulawesi Selatan.

Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengungkapkan bahwa fenomena hujan ringan yang terjadi di tengah musim kemarau dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer, khususnya gelombang Rossby dan Kelvin.

Menurut Nasrol, kondisi ini merupakan anomali cuaca yang dipengaruhi dinamika atmosfer secara global, meskipun secara klimatologis wilayah Indonesia sedang memasuki fase El Nino.

“Dalam tiga hingga empat hari ke depan, masyarakat masih akan mengalami hujan ringan. Namun, yang perlu diwaspadai adalah perbedaan tekanan udara yang cukup signifikan antara suhu panas dan dingin,” jelasnya, usai apel Kesiapsiagaan Bencana, Rabu (29/4).

Perbedaan tekanan tersebut berpotensi memicu angin kencang, terutama pada sore hingga malam hari, yang kerap disertai petir.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi gangguan jaringan listrik, pohon tumbang, serta ranting kering yang berisiko membahayakan.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Makassar dan sekitarnya, termasuk Maros, Gowa, dan Takalar, akan terjadi pada periode Juni, Juli, dan Agustus (JJA).

Kondisi ini berpotensi menyebabkan krisis air bersih jika tidak diantisipasi sejak dini.

Menanggapi peringatan tersebut, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pemerintah kota telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, terutama kekeringan dan angin kencang.

Ia menyebutkan bahwa fenomena El Nino tahun ini diperkirakan lebih kuat, dengan puncak kekeringan terjadi pada Juli hingga September.

“Setelah September, potensi hujan tinggi disertai angin kencang juga harus diwaspadai karena adanya perbedaan tekanan udara yang ekstrem,” ujarnya.

Munafri menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi bencana. Pemerintah kota bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyusun strategi terpadu guna meminimalisir risiko dan dampak yang mungkin terjadi.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat, termasuk anak-anak, menjadi perhatian khusus. “Pemahaman mitigasi bencana harus dimulai sejak dini agar masyarakat tahu bagaimana bersikap saat bencana terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menyampaikan bahwa pihaknya akan menetapkan status siaga mulai Mei, sebelum memasuki fase tanggap darurat pada Juni.

BPBD telah menyiapkan langkah-langkah strategis melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi kemanusiaan, rumah sakit, BUMN, dan relawan. Fokus utama penanganan meliputi krisis air bersih, dengan dukungan distribusi dari PDAM, potensi kebakaran, dikoordinasikan oleh dinas pemadam kebakaran, dan angguan kesehatan, seperti ISPA dan penyakit paru-paru akibat kekeringan.

“Dalam kondisi El Nino, suhu udara meningkat sehingga risiko kebakaran menjadi lebih tinggi. Selain itu, kekeringan juga berdampak pada kesehatan masyarakat,” jelas Fadli.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus mencakup seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

BPBD juga akan menggencarkan sosialisasi terkait penghematan air, pencegahan kebakaran, serta langkah-langkah keselamatan saat bencana terjadi.

Pemerintah Kota Makassar menegaskan bahwa bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan adanya koordinasi yang terstruktur dan peran aktif seluruh elemen masyarakat, diharapkan dampak dari cuaca ekstrem dan kekeringan dapat diminimalisir.

“Bencana bisa datang kapan saja. Yang terpenting adalah kesiapan kita dalam menghadapinya,” tutup Fadli. (rhm)

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |