Yovie Widianto Ajak Mahasiswa Unhas Bangun IP Baru

13 hours ago 13

ist HADIR--Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ruang inspirasi bagi kalangan mahasiswa melalui kuliah umum bertema Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture Theater di Unhas, Kamis (23/4).

MAKASSAR, BKM—Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menghadirkan ruang inspirasi bagi kalangan mahasiswa melalui kuliah umum bertema Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kamis (23/4). Kegiatan tersebut menghadirkan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, sebagai narasumber utama.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa mengatakan kehadiran Yovie Widianto di kampus Unhas bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya menghadirkan perspektif baru kepada mahasiswa mengenai arah pembangunan masa depan. Menurutnya, dunia saat ini bergerak sangat cepat dan tidak lagi hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi lebih banyak ditentukan oleh kualitas ide, kreativitas, serta kemampuan menciptakan solusi.

“Perguruan tinggi hari ini harus membaca perubahan zaman dengan jernih. Negara-negara maju bertumpu pada inovasi, riset, dan kreativitas manusianya. Karena itu kami di Universitas Hasanuddin ingin memastikan mahasiswa tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi aktor utama yang menciptakan perubahan tersebut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk membangun ekosistem yang sehat bagi lahirnya gagasan baru. Menurutnya, ruang-ruang akademik harus dibuka lebih luas agar mahasiswa dapat bertemu, berdiskusi, bereksperimen, lalu mengembangkan ide menjadi karya nyata yang memberi nilai tambah ekonomi maupun manfaat sosial.

“Kampus tidak boleh berhenti sebagai tempat transfer ilmu semata, kampus harus menjadi laboratorium kehidupan, tempat anak-anak muda berani mencoba, berani gagal, lalu bangkit menciptakan sesuatu yang lebih besar dari sinilah inovasi lahir, dari keberanian berpikir berbeda dan bekerja bersama,” katanya.

Prof JJ sapaan akrabnya juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu sebagaimana disampaikan Yovie Widianto. Menurutnya, tantangan global tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sektoral, sebab setiap persoalan membutuhkan perpaduan sains, teknologi, seni, hukum, ekonomi, dan komunikasi secara bersamaan.
“Mahasiswa kedokteran, teknik, hukum, ekonomi, pertanian, sosial politik, sastra, semuanya memiliki peran yang sama penting. Jika potensi itu dipertemukan, maka akan lahir karya besar dari kampus ini. Saya percaya Unhas mampu menjadi rumah bagi lahirnya produk kreatif dan intellectual property yang berkelas dunia,” tegasnya.

Lebih jauh, ia berharap mahasiswa Unhas memiliki mental pencipta, bukan hanya pencari kerja. Menurutnya, generasi muda Sulawesi Selatan harus berani memanfaatkan budaya lokal, kekayaan maritim, pertanian, teknologi digital, hingga potensi seni sebagai sumber ekonomi baru yang kompetitif. “Kita memiliki kekayaan budaya, pengetahuan lokal, dan sumber daya manusia yang luar biasa, semua itu harus diterjemahkan menjadi inovasi, menjadi bisnis kreatif, menjadi solusi bagi masyarakat. Saya ingin mahasiswa Unhas keluar dari kampus ini dengan kepercayaan diri bahwa mereka mampu memimpin masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, di hadapan ratusan peserta, Yovie menekankan bahwa ekonomi kreatif bukan lagi sekadar sektor pelengkap, melainkan akan menjadi masa depan pembangunan nasional yang bertumpu pada gagasan, inovasi, serta kekuatan sumber daya manusia muda. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendorong lahirnya karya-karya baru yang bernilai ekonomi tinggi. Kampus, kata dia, merupakan ruang terbaik untuk mempertemukan beragam disiplin ilmu yang dapat melahirkan inovasi baru, termasuk kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang berdaya saing global.

“Yang jelas, saya ingin menyemangati teman-teman mahasiswa, adik-adik mahasiswa, bahwa ekonomi kreatif ini adalah masa depan kita semua. Saya tahu betul mahasiswa memiliki bakat-bakat yang hebat untuk Indonesia, bukan hanya di musik, di film, di seni, tetapi juga di berbagai bidang keilmuan yang ada di kampus,” jelasnya.

Ia menilai, potensi besar mahasiswa kerap belum terhubung secara sistematis. Karena itu, perguruan tinggi perlu mendorong kolaborasi lintas fakultas agar ide-ide mahasiswa tidak berhenti sebagai konsep, tetapi berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai pasar. Ia mencontohkan, mahasiswa Fakultas Hukum dapat mengambil peran dalam perlindungan hak cipta dan aspek legalitas karya. Sementara mahasiswa desain dapat membantu pengemasan visual, mahasiswa seni dan musik berkontribusi dalam produk kreatif, mahasiswa perfilman menggarap sisi produksi audio visual, sedangkan mahasiswa ekonomi dan ilmu sosial dapat mengembangkan strategi pemasaran, komunikasi, hingga penguatan merek.

“Bayangkan kalau semua keahlian itu dipertemukan dari kampus bisa lahir IP baru, karya baru, merek baru, yang berasal dari kreativitas mahasiswa sendiri itu yang saya harapkan ke depan, bagaimana kampus menjadi tempat lahirnya kolaborasi besar antar fakultas,” katanya.
Lebih jauh, Ia menegaskan bahwa mahasiswa masa kini tidak cukup hanya mengandalkan ijazah atau kompetensi akademik semata. Mereka juga harus mulai membangun kemampuan berwirausaha dan menciptakan sumber pendapatan baru melalui sektor kreatif.

Menurut dia, ekonomi kreatif memberi ruang luas bagi generasi muda untuk mendiversifikasi masa depan ekonomi pribadi maupun nasional dengan keterampilan yang dimiliki, mahasiswa dapat menjadi pengusaha kreatif, pekerja profesional, maupun penggerak ekosistem industri kreatif yang membuka lapangan kerja baru.

“Harapannya mahasiswa ke depan tidak hanya mengandalkan ilmunya saja, tetapi juga punya kemampuan membangun usaha ekonomi kreatif. Mereka bisa menjadi pejuang ekonomi kreatif, menciptakan peluang, membantu ekosistem, dan tetap relevan di bidang apa pun yang nanti mereka jalani,” tuturnya. (ita)

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |